Peduli HIV/AIDS, Jaringan Positif Indonesia Dorong Pengadaan Obat ARV dengan Harga Minimun

BeritaPengadaan.com – Jakarta (18/12). Dalam momentum hari HIV/AIDA sedunia, Jaringan Indonesia Positif, sebagai jaringan yang peduli dengan orang dengan HIV Aids (ODHA) menyoroti kasus dugaan korupsi pengadaan obat HIV yang disebut antiretroviral (ARV) oleh PT Kimia Farma dan PT Indofarma.

Dugaan tersebut berasal dari temuan harga beli pemerintah untuk obat ARV pada 2016 lalu yang mencapai Rp 385.000 perbotolnya.

Sedangkan berdasarkan harga pasaran internasional, ARV hanya berkisar $ 8.9 atau Rp 115.000 perbotol.

Program Officer Jaringan Indonesia Positif, Timotius Hadi megatakan, proses pengadaan obat  dari Kementrian kesehata hanya dilakukan oleh dua perusahaan, sehingga dampak penurunan harga sesuai dengan harga minimum sulit untuk dicapai.

“Untuk itu rasanya perusahaan lain bisa disertakan juga untuk bisa ikut dalam proses pengadaan sehingga harga minimum bisa tercapai dan APBN bisa dialokasikan untuk pembelian ARV yang lebih banyak,” ujarnya, Kamis (6/12/2018).

Pemerintah pun diharapkan tegas terkait pengadaan ARV, pasalnya Timotius menekankan hak atas kesehatan pada Undang Undang nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

“Pemerintah perlu menjamin dan mengontrol distribusi ARV karena dengan pengobatan yang teratur kehidupan kami jauh lebih sehat dan produktif,” katanya.

ARV merupakan obat untuk HIV positif yang dianggap dapat meningkatkan kualitas hidup orang dengan HIV karena dapat mencegah penularan dan munculnya gejala AIDS. (BP//Achin)

(Sumber : http://wartakota.tribunnews.com)